Headlines News :
Home » , , » Gangguan Penglihatan Jauh

Gangguan Penglihatan Jauh

Written By agus setiawan on Sabtu, 08 Desember 2012 | 13.47

SKENARIO
Seorang anak wanita, 9 tahun di antar oleh ibunya ke poliklinik mata dengan keluhan sulit membaca tulisan di papan tulis. Kakak dan ibunya memakai kaca mata.
Kata kunci :
1.    Anak wanita 9 tahun
2.    Sulit membaca tulisan di papan tulis
3.    Kakak dan ibu memakai kaca mata.
 
Pertanyaan :
1.    Anatomi,histologi, dan fisiologi dari organ penglihatan?
2.    Bagaimana mekanisme terjadinya penglihatan jauh (fisiologi) ?
3.    Differential diagnosis?
4.    Epidemiologi DD?
5.    Etiologi DD?
6.    Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis?
7.    Bagaimana penatalaksanaannya?
8.    Bagaimana pencegahannya?
9.    Bagaimana Komplikasinya?
10.    Bagaimana prognosisnya?
JAWABAN
1.    Anatomi dan fisiologi mata
Dari luar, mata itu tampak berbentuk bulat dan dilindungi oleh kelopak mata. Conjunctiva, yang mengandung banyak pembuluh darah, adalah selaput lendir yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian depan bola mata hingga ke cornea. Selaput ini mencegah benda-benda asing di dalam mata seperti bulu mata atau lensa kontak (contact lens), agar tidak tergelincir ke belakang mata. Bersama-sama dengan kelenjar lacrimal yang memproduksi air mata, selaput ini turut menjaga agar cornea tidak kering. Air mata mempunyai fungsi yang penting sebagai minyak pelumas dan turut mencegah kekeringan pada mata. Kelebihan air mata dibuang melalui lubang-lubang kecil pada kelopak mata dan mengalir ke dalam hidung. Bulu mata (pada bagian luar kelopak mata) serupa fungsinya dengan kumis pada kucing, yang bereaksi cepat terhadap rangsangan eksternal, yang menyebabkan mata berkedip dengan cepat untuk menghindari cedera. Dinding keras atau "putih" mata disebut sclera. sclera ini buram dan melindungi bagian-bagian mata yang lebih peka. Pada bagian depan mata, yang sinambung dengan sclera, terdapat cornea, yang merupakan jendela bagi mata, yang berbentuk bulat. Cornea tidak mengandung pembuluh darah dan bening, berfungsi mengarahkan cahaya ke dalam mata.
Meskipun lebih tipis daripada lensa yang terdapat di bagian dalam mata, cornea merupakan lensa cembung yang sangat kuat. Bersama-sama dengan lensa, cornea memfokuskan citra optik pada retina yang terletak di bagian belakang mata. Cornea, yang mengandung banyak serabut syaraf, merupakan bagian dari tubuh manusia yang paling peka, sehingga iritasi yang kecil sekali pun dapat menimbulkan rasa nyeri yang parah padanya. Cornea dapat menjadi buram jika mengalami kerusakan atau terinfeksi.
Lensa, seperti halnya cornea, bening bila sehat. Lensa berbentuk cembung pada kedua permukaannya, dan mengandung air dan protein. Lensa tidak mengandung syaraf ataupun pembuluh darah dan strukturnya elastis. Akan tetapi, elastisitasnya berkurang seiring dengan bertambahnya usia, yang mengakibatkan orang berkesulitan membaca tulisan kecil pada usiapertengahan (presbyopia).
Lensa membagi mata menjadi dua segmen: bagian mata yang berada di depan lensa disebut anterior chamber (rongga depan) dan berisi cairan bening, aqueous, yang senantiasa diproduksi oleh ciliary body. Aqueous memberikan gizi yang penting bagi lensa, membantu membersihkan kotoran dan mengatur tekanan di dalam bola mata serta memelihara bentuk  mata. Kelebihan aqueous dikeluarkan oleh trabeculum yaitu jaringan saluran penyaring yang terdapat di sudut anterior chamber Di samping berfungsi memproduksi aqueous, ciliary body mempunyai tiga macam otot yang membantu memfokuskan lensa, agar citra yang terbentuk pada retina tetap jelas.
Bagian mata yang terletak di belakang lensa, yang dibatasi oleh retina, kadang-kadang disebut posterior chamber (rongga belakang). Rongga ini berisi vitreous, zat bening yang menyerupai jeli, yang memenuhi empat perlima bagian dari mata. Seperti aqueous, vitreous tidak berisi pembuluh darah ataupun serabut syaraf, dan sebagian besar (99%) berupa air.
Satu persen lainnya terdiri dari collagen dan asam hyaluronic yang berfungsi memelihara konsistensi vitreous agar bentuknya tetap selaras dengan mata. Jika karena sebab tertentu kebeningan vitreous itu berkurang, misalnya karena infeksi, maka ketajaman penglihatan menjadi terganggu.
Cahaya masuk melalui lensa dan vitreous menuju ke lapisan mata paling dalam, yaitu retina.
Retina terdiri dari beberapa lapisan yang berisi dua jenis sel, yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda dalam responnya terhadap rangsangan visual, yang bekerja berdasarkan reaksi fotokimia. Informasi yang dihasilkannya masuk ke otak melalui syaraf optik. Bagian yang paling peka dari retina ini disebut macula, yang bagian tengahnya disebut fovea. Fovea terdiri dari sel-sel berbentuk roket yang disebut "cones", yang peka terhadap citra visual yang rinci dan warna, dan karenanya bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan. Sel-sel berbentuk seperti rokok yang disebut "rods" sebagian besar terdapat di bagian tepi retina, dan hanya sedikit saja yang terdapat pada bagian tengah. Sel-sel ini terutama peka terhadap pergerakan dan sangat peka terhadap cahaya, sehingga bekerjanya lebih baik dalam keadaan cahaya yang lebih redup.
Di antara retina dan sclera terdapat choroid, yang merupakan lapisan lingkaran utama mata, yang berfungsi mengalirkan darah untuk memberi makanan kepada berbagai bagian mata (terutama kepala syaraf optik).
Di depan lensa adalah iris, yang berupa bagian mata yang berwarna, berisi jaringan otot yang dapat mengerut atau mengembang, sehingga berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk melalui pupil, yaitu bagian tengah iris, terus ke retina. The Ciliary body terletak di antara iris dan choroid, dan ketiga struktur ini membentuk uvea.

Fisiologi Penglihatan
• Cahaya masuk ke mata dan di belokkan (refraksi) ketika melalui kornea dan struktur-struktur lain dari mata (kornea, humor aqueous, lensa, humor vitreous) yang mempunyai kepadatan berbeda-beda untuk difokuskan di retina, hal ini disebut kesalahan refraksi.
• Mata mengatur (akomodasi) sedemikian rupa ketika melihat objek yang jaraknya bervariasi dengan menipiskan dan menebalkan lensa. Pemglihatan dekat memerlukan kontraksi dari badan ciliary, yang bisa memendekkan jarak antara kedua sisi badan ciliary yang diikuti dengan relaksasi ligamen pada lensa. Lensa menjadi lebih cembung agar cahaya dapat terfokuskan pada retina. Penglihatan yang terus menerus dapat menimbulkan ketegangan mata karena kontraksi yang menetap (konstan) dari otot-otot ciliary. Hal ini dapat dikurangi dengan seringnya mengganti jarak antara objek dengan mata. Akomodasi juga dinbantu dengan perubahan ukuran pupil. Penglihatan dekat, iris akan mengecilkan pupil agar cahaya lebih kuat melelui lensa yang tebal.
• Cahaya diterima oleh fotoreseptor pada retina dan dirubah menjadi aktivitas listrik diteruskan ke kortek. Serabut-serabut saraf optikus terbagi di optik chiasma (persilangan saraf mata kanan dan kiri), bagian medial dari masing-masing saraf bersilangan pada sisi yang berlawanan dan impuls diteruskan ke korteks visual.
Mekanisme Penglihatan Normal

Gambaran histologi retina 
   
Bagaimana Mata "Melihat"
Mata memiliki dua jenis kemampuan:
* penglihatan sentral,
* penglihatan periferal (samping) atau bidang,dan bagian retina yang berbeda bertanggung jawab untuk masing-masing fungsi tersebut.
Penglihatan Sentral
Bila mata memandang suatu obyek, ini dilakukan dalam "sumbu penglihatan" (visual axis).
Pada satu ujung sumbu tersebut adalah obyek itu, dan pada ujung lainnya adalah retina atau
lebih tepatnya macula.
Macula adalah bagian kecil dari retina yang diameternya kira-kira 5,5 mm pada bagian
terlebarnya. Bagian tengah dari macula, yaitu fovea, bertanggung jawab untuk penglihatan
yang tertajam, dan seluruhnya terdiri dari cones. Ini merupakan sel-sel yang foto-reseptif,
yang dapat berfungsi lebih baik dalam keadaan cahaya terang, dan memungkinkan mata
membedakan rincian halus dan warna, dan oleh karenanya sangat penting untuk banyak
tugas-tugas visual dan motorik halus yang dilaksanakan anak di dalam maupun di luar
ruangan kelas. Jenis penglihatan inilah yang sangat penting untuk tugas-tugas seperti
membaca, dan kerusakan pada macula mempunyai implikasi yang signifikan bagi kegiatan
belajar.
Penglihatan Periferal atau Penglihatan Bidang
Bagian tepi dari macula terdiri dari sel-sel foto-reseptor yang disebut rods. Kepekaan rods
meningkat dalam keadaan cahaya yang lebih redup, dan ini penting untuk memberikan
informasi visual tentang apa yang terdapat di sekeliling bentuk citra yang dipersepsi oleh
fovea. Misalnya, bila anda sedang berkonsentrasi membaca kata-kata pada bagian tengah
baris ini, anda sadar akan kata-kata yang tertulis pada kedua ujung baris ini yang berada di
luar fokus. Begitu pula, anda pun sadar akan kata-kata yang tertulis di atas atau di bawah
baris ini, tergantung pada besarnya huruf. Bagian tepi retina menangkap citra buram di
sekeliling fokus, dan penangkapan tentang citra tersebut semakin jelas bila lebih dekat ke
macula.
Kehilangan penglihatan pada bagian ini, baik sebagian maupun sepenuhnya (penglihatan
cerobong - tunnel vision), mempunyai implikasi pendidikan yang serius. Misalnya, siswa
akan mengalami kesulitan berjalan dalam keadaan cahaya redup (buta ayam - night
blindness).
Masing-masing mata mempunyai bidang pandang (visual field) tersendiri dan jika kedua
belah mata terbuka, bidang-bidang pandang tersebut bertemu, menyebabkan terjadinya
penglihatan binokuler pada bidang ini. Penglihatan binokuler ini diperlukan untuk
memperoleh persepsi tentang kedalaman dan posisi diri dalam ruangan dan dalam perspektif.

2.    Penglihatan Normal
1. Melihat Jauh
Berkas cahaya paralel masuk ke mata melalui pupil. Cahaya dibiaskan pada saat melalui cornea dan lensa menuju ke macula. Selama proses ini otot ciliary dalam keadaan lemas.
2. Melihat Dekat
Untuk melihat obyek dekat secara terfokus, otot cilary mengerut pada saat cahaya melalui lensa. Keadaan ini meningkatkan kekuatan lensa, dan membuat cahaya terfokus pada macula. Sayangnya, sebagai bagian dari proses penuaan, lensa akan mengeras dan tidak merespon secara sama terhadap otot cilary, akibatnya orang memerlukan kaca mata baca.
3.    Differential Diagnosis
1.    Myopia
Miopia disebut rabun jauh karena berkurangnya kemampuan melihat jauh tapi dapat melihat dekat dengan lebih baik. Miopia terjadi jika kornea (terlalu cembung) dan lensa (kecembungan kuat) berkekuatan lebih atau bola mata terlalu panjang sehingga titik fokus sinar yang dibiaskan akan terletak di depan retina.


Klasifikasi
Dikenal beberapa bentuk myopia:
a.    Miopia refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat.
b.    Myopia aksial, myopia akibat panjangnya sumbu bola mata dengan kelengkungan kornea dan lensa normal.
c.    Myopia kurvatura, besar bola mata normal tetapi kurvatura kornea dan lensa lebih besar dari normal.
Menurut derajat beratnya myopia dibagi dalam:
a.    Myopia ringan, miopianya 1-3 dioptri
b.    Miopia sedang, miopinya 3-6 dioptri
c.    Miopia berat atau tinggi, miopinya lebih besar dari 6 dioptri
Menurut perjalanan myopia dikenal bentuk :
a.    Myopia stasioner, myopia menetap setelah dewasa
b.    Myopia progresif, myopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola mata
c.    Myopia maligna, myopia yang berjalan progresif yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan myopia pernisiosa/myopia maligna/miopiadegeneratif. Biasanya terjadi bila myopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina.
Epidemiologi
Miopia memiliki insiden 2,1% di Amerika Serikat dan peringkat ke tujuh yang menyebabkan kebutaan, serta tampak memiliki predileksi tinggi pada keturunan Cina, Yahudi, dan Jepang. Angka kejadiannya lebih sering 2 kali lipat pada perempuan dibanding laki-laki. Keturunan kulit hitam biasanya bebas dari kelainan ini.
Menurut “National Eye Institute Study”, miopia merupakan penyebab kelima tersering yang mengganggu penglihatan dan merupakan penyebab kutujuh yang tersering kebutaan di Amerika Serikat, sedangkan di Inggris merupakan penyebab kebutaan tersering .
Etiologi
Miopia tinggi dapat diturunkan, baik secara autosomal dominan maupun autosomal resesif. Penurunan secara sex linked sangat jarang terjadi, biasanya terjadi pada miopia yang berhubungan dengan penyakit mata lain atau penyakit sistemik. Pada ras oriental, kebanyakan miopia tinggi diturunkan secara autosomal resesif.

Gejala klinis
Gejala umum miopia antara lain:
-    Mata kabur bila melihat jauh
-    Sering sakit kepala
-    Menyipitkan mata bila melihat jauh (squinting / narrowing lids)
-    Lebih menyukai pekerjaan yang membutuhkan penglihatan dekat dibanding   pekerjaan yang memerlukan penglihatan jauh.
-    Pada mata didapatkan:
-    Kamera Okuli Anterior lebih dalam
-    Pupil biasanya lebih besar
-    Sklera tipis
-    Vitreus lebih cair
-    Fundus tigroid
-    Miopi crescent pada pemeriksaan funduskopi

Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis
Pengujian atau test yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan mata secara umum atau standar pemeriksaan mata, terdiri dari : 3,6
1.    Uji ketajaman penglihatan pada kedua mata dari jarak jauh (Snellen) dan jarak dekat (Jaeger).
2.    Uji pembiasan, untuk menentukan benarnya resep dokter dalam pemakaian kaca mata.
3.    Uji penglihatan terhadap warna, uji  ini untuk meembuktikan kemungkinan ada atau tidaknya kebutaan.
4.    Uji gerakan otot-otot mata
5.    Pemeriksaan celah dan bentuk tepat di retina
6.    Mengukur tekanan cairan di dalam mata
7.    Pemeriksaan retina
Penatalakasanaan
Koreksi terhadap miopia dapat dilakukan diantaranya dengan :
•    Kacamata
Kacamata masih merupakan metode paling aman untuk memperbaiki refraksi.
•    Lensa kontak
Lensa kontak yang biasanya digunakan ada 2 jenis yaitu, lensa kontak keras yang terbuat dari bahan plastik polimetilmetacrilat (PMMA) dan lensa kontak lunak terbuat dari bermacam-macam plastik hidrogen. Lensa kontak keras secara spesifik diindikasikan untuk koreksi astigmatisma ireguler, sedangkan lensa kontak lunak digunakan untuk mengobati gangguan permukaan kornea.
Salah satu indikasi penggunaan lensa kontak adalah untuk koreksi miopia tinggi, dimana lensa ini menghasilkan kualitas bayangan lebih baik dari kacamata. Namun komplikasi dari penggunaan lensa kontak dapat mengakibatkan iritasi kornea, pembentukan pembuluh darah kornea atau melengkungkan permukaan kornea. Oleh karena itu, harus dilakukan pemeriksaan berkala pada pemakai lensa kontak.
•    Bedah keratoretraktif
Bedah keratoretraktifmencakup serangkaian metode untuk mengubah kelengkungan permukaan anterior bola mata diantaranya adalah keratotomy radial, keratomileusis, keratofakia, epikeratofakia.
•    Lensa intraoculer
•    Penanaman lensa intraokuler merupakan metode pilihan untk koreksi kesalahan refraksi pada afakia.
•    Ekstraksi lensa jernih
Ekstraksi lensa bening telah banyak dicobakan oleh ahli bedah di dunia pada pasien dengan miopia berat karena resiko tindakan yang minimal.
    Pencegahan
Kebanyakan anak-anak miopia hanya dengan miopia tingkat rendah hingga menengah, tapi beberapa akan tumbuh secara progresif menjadi miopia tinggi. Faktor resiko terjadinya hal tersebut antara lain faktor etnik, refraksi orangtua, dan tingkat progresi miopia. Pada anak-anak tersebut, intervensi harus diperhitungkan.
Pengontrolan miopia antara lain dengan:
-        Zat Sikloplegik
Berdasarkan laporan penelitian, pemberian harian atropin dan cyclopentolate mengurangi tingkat progresi miopia pada anak-anak. Meskipun demikian, hal ini tidak sebanding dengan ketidaknyamanan, toksisitas dan resiko yang berkaitan dengan sikloplegia kronis. Selain itu, penambahan lensa plus ukuran tinggi (contoh: 2,50 D) diperlukan untuk melihat dekat karena inaktivasi otot silier. Meskipun progresi melambat selama terapi, efek jangka panjang tidak lebih dari 1-2 D.
-        Lensa plus untuk melihat dekat
Efektivitas pemakaian lensa bifokus untuk mengontrol miopia pada anak-anak masih kontroversial, beberapa penelitian tidak menunjukkan reduksi progresi miopia yang bermakna namun ada juga penelitian yang menemukan bahwa pemakaian lensa bifokus dapat mengontrol miopia. Ukuran adisi dekat yang efektif masih diperdebatkan.
-        Lensa Kontak Rigid
Lensa kontak Rigid gas-permeable (RGP) dilaporkan efektif memperlambat tingkat progresi miopia pada anak-anak. Pengontrolan miopia diyakini disebabkan karena perataan kornea. Selama 3 tahun pemberian lensa kontak, ruang vitreus masih lanjut memanjang, hingga kontrol miopia dengan RGP tidak mengurangi resiko berkembangnya sekuele miopia segmen posterior. Bila pemakaian lensa kontak dihentikan muncul efek rebound seperti curamnya kembali korenea (resteepening of the cornea)
Orthokeratology adalah fitting terprogram dengan sejumlah seri lensa kontak selama periode beberapa minggu hingga beberapa bulan, guna meratakan kornea dan mengurangi miopia. Kebanyakan pengurangan ini terjadi dalam 4-6 bulan. Namun, perubahan kelainan refraksi menuju keadaan awal terjadi bila pasien berhenti memakai lensa kontak. Mekanisme pasti pemakaian RGP untuk tujuan ini masih belum jelas.
-        Bila membaca atau melakukan kerja jarak dekat secara intensif, istirahatlah tiap 30 menit. Selama istirahat, berdirilah dan memandang ke luar jendela.
-        Bila membaca, pertahankan jarak baca yang cukup dari buku.
-        Pencahayaan yang cukup untuk membaca.
-        Batasi waktu bila menonton televisi dan video game. Duduk 5-6 kaki dari televisi.
-        Jenis-jenis intervensi lain seperti pemakaian vitamin, bedah sklera, obat penurun tekanan bola mata, teknik relaksasi mata, akupunktur. Namun, efektivitasnya belum teruji dalam penelitian.
    Komplikasi
-    Abalasio retina
Resiko untuk terjadinya ablasio retina pada 0D – (- 4,75) D sekitar 1/6662. Sedangkan pada (- 5)D – (-9,75) D resiko meningkat menjadi 1/1335. Lebih dari (-10) D resiko ini menjadi 1/148. Dengan kata lain penambahan factor resiko pada miopia rendah tiga kali sedangkan miopia tinggi meningkat menjadi 300 kali.
-    Vitreal Liquefaction dan Detachment
Badan vitreus yang berada di antara lensa dan retina mengandung 98% air dan 2% serat kolagen yang seiring pertumbuhan usia akan mencair secara perlahan-lahan, namun proses ini akan meningkat pada penderita miopia tinggi. Hal ini berhubungan denga hilangnya struktur normal kolagen. Pada tahap awal, penderita akan melihat bayangan-bayangan kecil (floaters). Pada keadaan lanjut, dapat terjadi kolaps badan viterus sehingga kehilangan kontak dengan retina. Keadaan ini nantinya akan beresiko untuk terlepasnya retina dan menyebabkan kerusakan retina. Vitreus detachment pada miopia tinggi terjadi karena luasnya volume yang harus diisi akibat memanjangnya bola mata.
-    Miopic makulopaty
Dapat terjadi penipisan koroid dan retina serta hilangnya pembuluh darah kapiler pada mata yang berakibat atrofi sel-sel retina sehingga lapanagn pandang berkurang. Dapat juga terjadi perdarahan retina dan koroid yang bisa menyebabkan kurangnya lapangan pandang. Miop vaskular koroid/degenerasi makular miopic juga merupakan konsekuensi dari degenerasi makular normal, dan ini disebabkan oleh pembuluh darah yang abnormal yang tumbuh di bawah sentral retina.
-    Glaukoma
Resiko terjadinya glaukoma pada mata normal adalah 1,2%, pada miopia sedang 4,2%, dan pada miopia tinggi 4,4%. Glaukoma pada miopia terjadi dikarenakan stress akomodasi dan konvergensi serta kelainan struktur jaringan ikat penyambung pada trabekula.
-    Katarak
Lensa pada miopia kehilangan transparansi. Dilaporkan bahwa pada orang dengan miopia onset katarak muncul lebih cepat.
    Prognosis
Diagnosis awal pada penderita miopia adalah sangat penting karena seorang anak yang sudah positif miopia tidak mungkin dapat melihat dengan baik dalam jarak jauh.

2.    Hipermetropia
Hipermetropia adalah Suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar aksis visual tanpa akomodasi difokuskan pd satu titik di belakang retina.
Klasifikasi
o    Berdasarkan klinik :
   1. Hipermetrop total
       - tanpa akomodasi
       - diperoleh dengan cara melumpuhkan m. ciliar dengan siklopegik
2. Hipermetrop manifest
        - dengan akomodasi
        - diperoleh tanpa melumpuhkan m. ciliar
Hipermetrop manifest tdd :
-    Hipermetrop manifest fakultatif :
•    akomodasi  mata  mampu  memfokuskan sinar sejajar aksis visual tepat di retina.
•    ketajaman visus yg diperoleh:5/5 tanpa koreksi
-    Hipermetrop manifest absolut :
•    akomodasi  mata  tidak  mampu  memfokuskan sinar tepat di retina
•    ketajaman visus yg diperoleh:<5/5, dengan koreksi lensa sferis konveks diperoleh visus 5/5
3.    Hipermetrop latent ( Hl )
-    diperoleh dari selisih antara  hipermetrop total (Ht) dan hipermetrop manifest (Hm),
      rumus  :                    
                     Ht  = Hm  +  Hl
-    besarnya Hm dan Hl tidak konstan tergantung umur dan kegiatan akomodasi seseorang.
o    Berdasarkan kausanya :
   1. Hipermetrop kurvatur
       - disebabkan lengkung kurvatur media refrakta berkurang
       - ditemukan pada : kornea yang datar
   2. Hipermetrop indeks
       - disebabkan berkurangnya indeks refraksi
       - ditemukan pada : subluksasi  lensa  post , dislokasi lensa, afakia, lensa tipis
   3. Hipermetrop aksial
       - disebabkan berkurangnya jarak kornea  dan   fokus bayangan retina
       - ditemukan pada : mikroftalmi, ablasi retina
Epidemiologi
Kelainan ini menyebar merata di berbagai geografis, etnis, usia dan jenis kelamin.
Etiologi
Sumbu bola mata yang pendek, kelengkungan kornea kurang, indeks bias yang kurang , kebiasaan membaca yg buruk.
Gejala klinis
-    Sebagian besar tanpa keluhan
-    Biasanya penglihatan jauh baik, penglihatan dkt memberi gejala astenopia akomodatif :
    rasa nyeri di mata/atas mata
    rasa sakit kepala bag. Frontal/Occipital
    keluhan neuralgia
    lakrimasi
    fotofobi
    rasa terbakar dan berat di mata
-    BMD dangkal
-    Funduskopi : pseudopapil edem
Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis
Secara subyektif
Dalam hal ini penderita aktif menyatakan lebih tegas atau lebih kabur huruf-huruf pada kartu uji snellen, baik cara coba-coba atau pengabutan (fogging)
Pemeriksaan obyektif
Dengan menggunakan alat-alat tertentu, ditentukan keadaan refraksi tanpa menanya pasien. Cara ini baik digunakan pada pasien yang kurang kooperatif dan anak-anak. Alat ini dapat juga dipakai untuk menilai ada atau tidaknya kekeruhan media dan ada tidaknya astigmatisme. (sastradiwira, 1998)
Salah satu alat yang dapat digunakan adalah oftalmoskop direk, gambar fundus yang dihasilkan akan tampak kabur bila pasien mengalami kelainan refraksi. Dengan cara memutar cakram yang berisi lensa dengan pelbagai ukuran pada oftalmoskop maka gambaran akan terlihat jelas dan kekuatan lensa yang memberikan gambaran fundus yang paling jelas adalah kelainan refraksi. (Vaughan et all, 2000)
Penatalaksanaan
1.    Menambah kekuatan dioptri dengan lensa sferis konveks (positif) terkuat → visus  terbaik, dalam bentuk : kaca mata, lensa kontak, IOL
2.    Menambah derajat lengkung / curvatur lensa berupa tindakan : Epikeratopakia, keratomileusis, keratopakia,komb. keratopaki & keratomileusis
Pencegahan
-    Bermain di luar rumah. Menurut penelitian di Boston, Amerika Serikat, jika anak-anak seusia kita banyak bermain di luar rumah, akan lebih sedikit terkena gangguan mata seperti miopi. Misalnya bermain sepeda, bola kai, basket dan lain-lain. Permainan di luar rumah akan mencegah terlalu banyak menonton televise dan computer. Karena, jika bermain dalam rumah akan banyak menonton televise atau bermain computer. Keuntungan lainnya bermain di luar rumah adalah mata mendapat sinar matahari yang cukup untuk tubuh dan mata. Untuk tubuh, sinar matahari yang mengandung vitamin D sangat penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Sedangkan untuk mata, cahaya matahari dapat mengecilkan pupil, yaitu bagian mata yang mengatur besar kecilnya cahaya yang masuk ke lensa mata, sehingga mata kita dapat melihat lebih jelas atau lebih focus.
-    Duduk dengan posisi tegak ketika menulis.
-    Istirahatkan mata setiap 30-60 menit setelah menoton TV, computer atau setelah membaca.
-    Aturlah jarak baca yang tepat (> 30 cm)
-    Gunakan penerangan yang cukup
-    Jangan membaca dengan posisi tidur.

Komplikasi
-    Strabismus konvergen
-    Glaukoma sekunder
Prognosis
Prognosis tergantung onset kelainan, waktu pemberian peengobatan, pengobatan yang diberikan dan penyakit penyerta. Pada anak-anak, jika koreksi diberikan sebelum saraf optiknya matang (biasanya pada umur 8-10 tahun), maka prognosisnya lebih baik.


4.    Astigmat
Suatu kelainan refraksi dimana tiap meridian kurvatur mempunyai kekuatan refraksi yang berbeda → sinar-sinar sejajar tidak difokuskan pada satu titik.
Klasifikasi
    Astigmat regular
    Sinar2 // aksis visual difokuskan pada titik dalam bentuk satu garis di belakang kornea
    Terutama disbbkan oleh kelainan kurvatur kornea
Pembagian :
a)    berdasarkan letak/posisi prinsipel meridian :
    astigmat with the rule
    astigmat against the rule
    astigmat obliq ( jarang ditemukan )
b)    berdsrkan letak fokus bay./sinar kedua prinsipel meridian :
    simpel astigmat:
1.    simpel miop astigmat → koreksi: lensa C (-)
2.    simpel hipermetrop astigmat → koreksi :  C (+)
     compound astigmat :
1.     compound miop astig. → koreksi : S(-) C(-)
2.     compound  hipermetrop  astig. →  koreksi :  S(+) C(+)
     mixed astigmat
                koreksi :  - Lensa S (-) C (+) atau Lensa S (+) C (-)
    Astigmat Ireguler
    Sinar2 // aksis visual difokuskan pada titik berbeda-beda, tidak teratur di belakang kornea.
    Terutama oleh kelainan curvatur kornea dan lensa
    Meridian bentuknya bukan sferis, bukan cilinder
    Koreksi: tidak mungkin dengan lensa Sferis lensa cilinder atau kombinasi hanya dapat dilakukan dengan cara merubah bentuk permukaan media refraksi dengan Hard contact lens.
Epidemiologi
Kelainan ini menyebar merata di berbagai geografis, etnis, usia dan jenis kelamin.
Etiologi
Tekanan yang berlebihan pada kornea, kebiasaan membaca yang buruk dan kebiasaan menggunakan mata untuk melihat objek yang terlalu dekat.
Gejala klinis
-    Penglihatan jauh dan dekat kabur
-    Gejala sangat bervariasi, bisa seperti astenopia
-    Oftalmoskopi : papil N.optik bentuk oval
Pemeriksaan untuk menegakkakn diagnosis
Pengujian atau test yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan mata secara umum atau standar pemeriksaan mata, terdiri dari : 3,6
1.    Uji ketajaman penglihatan pada kedua mata dari jarak jauh (Snellen) dan jarak dekat (Jaeger).
2.    Uji pembiasan, untuk menentukan benarnya resep dokter dalam pemakaian kaca mata.
3.    Uji penglihatan terhadap warna, uji  ini untuk meembuktikan kemungkinan ada atau tidaknya kebutaan.
4.    Uji gerakan otot-otot mata
5.    Pemeriksaan celah dan bentuk tepat di retina
6.    Mengukur tekanan cairan di dalam mata
7.    Pemeriksaan retina
Penatalaksanaan
o    simpel astigmat:
a.    simpel miop astigmat → koreksi: lensa C (-)
b.    simpel hipermetrop astigmat → koreksi :  C (+)
o    compound astigmat :
a.    compound miop astig. → koreksi : S(-) C(-)
b.     compound  hipermetrop  astig. →  koreksi :  S(+) C(+)
o    mixed astigmat , koreksi :  - Lensa S (-) C (+) atau Lensa S (+) C (-)
Pencegahan
o    hindari ketegangan mata dan stress
o    membaca di lingkungan dengan pencahayaan yang sesuai
o    hindari menggosok mata
o    mengkonsumsi makanan sehat yang mengandung vitamin A, D, lutein dan zeaxhantin.


Prognosis
Prognosis tergantung onset kelainan, waktu pemberian peengobatan, pengobatan yang diberikan dan penyakit penyerta. Pada anak-anak, jika koreksi diberikan sebelum saraf optiknya matang (biasanya pada umur 8-10 tahun), maka prognosisnya lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
1.    Ilyas,Sidharta. 2005. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. 3rd edisi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, hlm : 128-136.
2.    James, Bruce, et al. 2006 . Lecture Notes Oftalmologi, 9th eds. Jakarta : Erlangga. Hlm : 76-79.
3.    Diunduh dari, http://www.medicastore.com/cybermed/detail_pyk.php?idktg=16&iddtl=65 - 13k. Diunduh dari http://www. edow.com/cataract,
4.    www.davidspalton.com/cataract.htm
5.    www.emedicine.com/senilecataract
6.    www.infomata.com/informasi/katarak
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Tentang Ku

Tujuh hal yang akan menghancurkan kita; kekayaan tanpa kerja, pengetahuan tanpa kerja, bisnis tanpa moralitas, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, ibadah tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip.

Entri Populer

Recent Post

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Catatan Sugasetya - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger