Headlines News :
Home » , , » Penyakit Jantung Bawaan

Penyakit Jantung Bawaan

Written By agus setiawan on Sabtu, 08 Desember 2012 | 14.24


SKENARIO

            Seorang anak perempuan 10 tahun datang dengan keluhan nyeri dan bengkak pada lutut kiri, demam, jantung terasa berdebar-debar. Hal ini dialami sejak tiga hari yang lalu. Pada pemeriksaan fisis ditemukan : sianosis (-), nadi 140 kali/menit, reguler tekanan darah 120/60 mmHg, suhu 38º C, DVS normal. Pemeriksaan toraks ditemukan peningkatan aktivitas ventrikel kiri, thrill teraba di apeks, a. Femoralis teraba bounding, batas-batas jantung membesar, bunyi S1 dan S2 murni, intensitas normal, terdengar bunyi sistol diastol derajat 2-3/6 pm di apeks. Tidak terdapat jari tabuh. Tanda-tanda radang di lutut kiri.
 
KLARIFIKASI KATA SULIT
            Setelah membaca dan memahami skenario di atas dengan seksama, kelompok kami menemukan beberapa kata-kata sulit yaitu :
*      DVS
*      Thrill
*      A. Femoralis teraba bounding
*      Bunyi sistol diastol derajat 2-3/6 pm di apeks
*      Jari tabuh
Klarifikasi :
*      DVS adalah Desakan Vena Sentral
*      Thrill adalah sensasi getaran superfisial yang teraba pada kulit di atas daerah turbulensi. [1]
*      A. Femoralis teraba bounding artinya bahwa derajat denyut arteri mencapai derajat 4 (bounding = meloncat). [2]
Sistem gradasi mengenai amplitudo denyut yang paling banyak diterima : [3]
0          Tidak ada
1          Melemah
2          Normal
3          Meningkat
4          Meloncat (bounding)
*      Bunyi sistol diastol derajat 2-3/6 pm di apeks : bising jantung derajat 2-3 dari skala 1 sampai 6. [4]  Punctum maksimum (pm) artinya terdengar paling keras di apeks kordis.
Derajat 2   :  bising yang lemah tapi mudah didengar, penjalaran terbatas.
Derajat 3 : bising yang cukup keras, tidak disertai penjalaran bising, penjalaran sedang sampai luas. [5]
*      Jari tabuh atau clubbing yaitu hilangnya sudut antara kuku dan falang terminal. Clubbing berkaitan dengan sejumlah gangguan klinis seperti : [6]
* Tumor intratoraks
* Jalan pintas campuran dari vena ke arteri
* Penyakit kronis paru
* Fibrosis hati kronis
Clubbing ditemukan pada sianosis sentral dan menunjukkan kelainan kardiopulmoner yang berat. [7]
KATA KUNCI
Berikut ini adalah beberapa kata atau kalimat kunci yang diidentifikasi dari skenario:
*    Perempuan 10 tahun
*    Nyeri dan bengkak lutut kiri
*    Demam
*    Palpitasi
*    Akut (3 hari lalu)
*    Sianosis (-)
*    Takikardia
*    Tekanan darah 120/60 mmH
*    DVS normal
*    Thrill teraba di apeks
*    A. Femoralis teraba bounding,
*    Kardiomegali
*    S1 dan S2 murni
*    Bunyi sistol diastol derajat 2-3/6 pm di apeks
*    Tidak terdapat jari tabuh
PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING
1.      Bagaimana anatomi, histologi, dan fisiologi organ yang terlibat?
2.      Bagaimana patomekanisme nyeri, bengkak, dan demam?
3.      Bagaimana patomekanisme palpitasi?
4.      Mengapa nyeri dan bengkak yang dialami pasien tidak simetris?
5.      Apa hubungan jenis kelamin dan umur pada gejala?
6.      Mengapa thrill teraba di apeks?
7.      Bagaimana mekanisme bising sistol diastol derajat 2-3/6 pm di apeks?
8.      Bagaimana mekanisme a. Femoralis teraba bounding?
9.      Bagaimana mekanisme dan makna aktivitas ventrikel kiri meningkat?
10.  Bagaimana mekanisme dan penyebab takikardia?
11.  Bagaimana hubungan batas-batas jantung yang membesar dengan gejala-gejala yang dialami?
12.  Apakah diagnosis banding untuk skenario di atas?
JAWABAN PERTANYAAN
1.      Anatomi jantung [8] :
Jantung terletak dalam ruang mediastinum inferius rongga dada, yaitu di antara paru. Perikardium yang meliputi jantung terdiri dari dua lapisan yaitu : lapisan dalam (perikardium visceralis) dan lapisan luar (perikardium paritetalis). Kedua lapisan perikardium ini dipisahkan oleh sedikit cairan pelumas, yang mengurangi gesekan antara gerakan pemompaan jantung. Perikardium parietalis melekat ke depan pada strenum, ke belakang pada kolumna vertebralis, dan ke bawah pada diafragma. Perlekatan ini menyebabkan jantung terletak stabil tempatnya. Perikardium visceralis melekat secara langsung pada permukaan jantung. Perikardium juga melindungi terhadap penyebaran infeksi atau neoplasma dari organ-organ sekitarnya ke jantung.
Jantung terdiri dari 3 lapisan. Lapisan terluar (epikardium), lapisan tengah yang merupakan lapisan otot yang disebut miokardium, sedangkan lapisan terdalam adalah lapisan endotel yang disebut endokardium.
Jantung Aspectus Anterior [9]
Ruangan jantung bagian atas (atrium) dan pembuluh darah besar (arteri pulmonalis dan aorta) membentuk dasar jantung (basis cordis). Atrium secara anatomi terpisah dari ruangan jantung sebelah bawah (ventrikel) oleh suatu anulus fibrosus (tempat terletaknya keempat katup jantung dan tempat melekatnya katup maupun otot). Secara fungsional, jantung dibagi menjadi pompa sisi kanan dan sisi kiri, yang memompa darah vena ke sirkulasi paru, dan darah bersih ke peredaran sistemik. Pembagian fungsi ini mempermudah konseptualisasi urutan aliran darah secara anatomi : vena kava, atrium kanan, ventrikel kanan, arteria plmonalis, vena pulmonalis, atrium kiri, ventrikel kiri, aorta, arteria, arteriola, kapiler, venula, vena, vena kava.
 
Katup Mitral [10]
Jantung memutar ke kiri dengan apeks terangkat ke depan. Rotasi ini menempatkan bagian kanan jantung ke anterior, di bawah sternum, dan bagian kiri jantung relatif ke posterior. Apeks jantung dapat dipalpasi di garis midklavikula pada ruang interkostal keempat atau kelima.
Fisiologi Jantung :
      Setiap siklus jantung terdiri dari urutan peristiwa listrik dan mekanik yang saling terkait. Gelombang rangsangan listrik yang tersebar dari nodus SA melalui sistem konduksi menuju miokardium untuk merangsang kontraksi otot. Rangsangan listrik ini disebut depolarisasi, dan diikuti pemulihan kembali disebut repolarisasi. Respon mekaniknya adalah sistolik dan diastolik. Sistolik merupakan sepertiga dari siklus jantung. Aktivitas listrik sel yang dicatat melalui elektrode intrasel memperlihatkan bentuk khas yang disebut potensial aksi. [11]
       Kontraksi miokardium yang berirama dan sinkron menyebabkan darah dipompa masuk ke dalam sirkulasi paru dan sistemik. Volume darah yang dipompa oleh tiap ventrikel per menit disebut curah jantung. Curah jantung rata-rata adalah 5 L/menit. Tetapi, curah jantung bervariasi untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi bagi jaringan perifer sesuai ukuran tubuh, yang diindikatori oleh index jantung (diperoleh dengan membagi curah jantung dengan luas permukaan tubuh, yaitu sekitar 3 L/menit/m2 permukaan tubuh. [12]
Histologi Jantung : [13]
      Secara mikroskopis, dinding jantung terdiri atas 3 lapisan, yaitu endocardium, miokardium dan lapisan terakhir epicardium.
Endokardium : Terdapat perbedaan ketebalan antara lapisan endokardium atrium dan ventrikel, pada atrium endokardiumnya tipis sedang pada ventrikel tipis. Dari dalam ke luar, lapisan ini terdiri atas lapisan endotel, subendotel, elastikomuskuler dan subendokardial.
*    Lapisan endotel berhubungan dengan endotel pembuluh darah yang masuk keluar jantung, sel endotel ini adalah sel squamosa berbentuk agak bulat, dapat juga poligonal.
*    Lapisan subendotel merupakan lapisan tipis anyaman penyambung jarang yang mengandung serat kolagen, elastis dan fibroblas.
*    Lapisan elastikomuskular terdiri dari anyaman penyambung elastis yang lebih padat dan otot polos.
*    Lapisan endokardial berhubungan dengan miokardium yang terdiri dari anyaman penyambung jarang yang mengandung vena, saraf dan sel purkinye yang merupakan bagian dari sistem impuls konduksi jantung. Serat purkinye ini merupakan modifikasi dari serat otot jantung, memiliki diskus interkalaris, diameternya lebih besar dari otot jantung, memiliki sedikit miofibril yang letaknya di perifer, sitoplasma memiliki butir glikogen.
Mikroskopik Endokardium Ventrikel [14]
Endokardium ini meliputi juga permukaan bagian lain selain atrium dan ventrikel, yaitu :
-          Katup atrioventrikuler
-          M. papillaris, yang meliputi tonjolan dari apeks otot jantung
-          Korda tendinae, terdiri dari serat-serat kolagen yang menghubungkan m. papillaris dengan katup jantung sehingga katup-katup ini tidak terdorong ke atrium pada saat ventrikel berkontraksi, hal ini untuk mencegah darah mengalir kembali ke atrium.
Miokardium : Miokardium merupakan bagian paling tebal dari dinding jantung yang terdiri dari lapisan otot jantung. Atrium tipis dan ventrikel tebal. Ventrikel kanan << ventrikel kiri. Terdapat diskus interkalaris (glanz streinfen) : Fascia adheren dan Gap junction.
Epikardium : Merupakan lapisan luar jantung yang terdiri dari jaringan ikat fibroelastis dan mesotel. Epikardium terdiri dari perikardium, kavum perikard, perikardium viseralis, dan perikardium parietalis.
1.      Patomekanisme nyeri :
Infeksi β-Streptococci Grup A terhadap tubuh merangsang timbulnya respon imun. Respon imun yang muncul bisa respon selular maupun humoral. Respon selular berupa peningkatan sel T sitotoksik. Respon humoral bisa berupa pelepasan antibodi anti-sterptococci misalnya ASTO, anti-DNAase antibodi [15]. Pada sendi artikular terdapa antigen penyebab artritis yang kemudian bertemu dengan APC yang terdiri dari sel sinoviosit, sel makrofag, dan sel dendritik yang kemudian akan mengekspresikan HLA-DR. antigen yang telah diproses akan dikenali dan diikat oleh CD4+. APC + HLA-DR + CD4+ membentuk trimolekul kompleks yang mengekskresi reseptor IL-2 pada permukaan CD4+ yang teraktivasi. Selain itu, juga disekresi  berbagai limfokin, gamma IFN, TNF-beta, IL-3, IL-4, GM-CSE yang meningkatkan fagositosis makrofag, produksi antibody untuk sel B. Antibodi dan antigen yang sesuai membentuk kompleks imun yang akan berdifusi ke dalam ruang sendi. Deposisi kompleks imun aan mengaktivasi komplemen C5a yang akan meningkatkan pemeabilitas vaskuler dan menarik lebih banyak PMN. Fagositosis kompleks imun oleh makrofag akan membebaskan radikal bebas oksigen, leukotrien, prostaglandin, dan bradikinin . Bradikinin inilah yang berperan sebagai mediator nyeri. Akibatnya, terjadi erosi rawan sendi dan tulang. Radikal oksigen (O3) dapat menyebabkan viskositas cairan sendi menurun, di samping itu juga merusak kolagen dan proteoglikan rawan sendi.
Patomekanisme bengkak : proses inflamasi yang terjadi di jaringan sendi yang melalui mekanisme di atas juga akan menimbulkan peningkatan ukuran jaringan yang mengalami inflamasi disertai perubahan warna (merah), peningkatan suhu, nyeri, dan functio laesa (kehilangan fungsi).
Patomekanisme demam : Infeksi β-Streptococci Grup A terhadap tubuh menginduksi pembentukan pirogen yang mempengaruhi monosit, limfosit B, makrofag, dan sel lainnya mengeluarkan sitokin pirogen endogen yaitu IL-1, IL-2, IL-6, TNF-α, dan IFN yang menginduksi pusat pengatur antipiretik di hipotalamus. Hipotalamus berespon dengan pelepasan mediator prostaglandin E-2 yang menaikkan patokan suhu ke level demam dan setelah itu tubuh akan memproduksi panas dan timbullah demam [16].
2.      Patomekanisme palpitasi :
Ketika terjadi kelainan di jantung kiri menimbulkan penurunan curah jantung sehingga suplai darah teroksigenasi ke jaringan tubuh juga menurun. Akibatnya terjadinlah hipoksia jaringan. Sebagai kompensasinya, stroke volume dan denyut jantung ditingkatkan sehingga sirkulasi menjadi hiperdinamik dan terjadi palpitasi [17].
3.      Nyeri dan bengkak yang dialami pasien hanya terjadi di lutut kiri karena pada saat dibawa ke rumah sakit, pasien masih berada dalam keadaan demam reumatik akut (jika dikaitkan dengan DD yang diambil kelompok kami) karena baru terjadi sejak  tiga hari yang lalu. Tidak menutup kemungkinan akan menyerang sendi-sendi yang lain seperti sendi siku, sendi paha, sendi panggul, dan sendi-sendi interfalang bila tidak segera diterapi. Khas dari demam reumatik adalah radang sendi jarang yang menetap lebih dari seminggu sehingga terlihat sembuh sempurna. Proses migrasi artritis membutuhkan waktu 3-6 minggu sehingga disebut poliartritis migrans. [18]
4.      Hubungan jenis kelamin dengan gejala yang dialami pasien pada kasus di atas yaitu :
Dari data-data penelitian ditemukan tidak ada perbedaan jenis kelamin, meskipun manifestasi klinis tertentu mungkin lebih sering ditemukan pada salah satu jenis kelamin. Misalnya gejala chorea jauh lebih sering ditemukan pada wanita daripada laki-laki. Kelainan katup sebagai gejala sisa penyakit jantung reumatik juga menunjukkan perbedaan jenis kelamin. Pada orang dewasa, gejala sisa berupa stenosis mitral lebih sering didapatkan pada wanita, sedangkan insufisiensi aorta lebih sering ditemukan pada laki-laki. [19]
Hubungan umur dengan gejala yang dialami pasien pada kasus di atas yaitu :
Penyakit jantung reumatik paling sering mengenai anak berumur antara 5-10 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun. Tidak biasa ditemukan pada anak usia 3-5 tahun dan sangat jarang ditemukan pada sebelum anak berumur 3 tahun atau setelah 20 tahun. Distribusi ini dikatakan sesuai dengan insidens infeksi Streptococcus pada anak usia sekolah. [20]
5.      Salah satu manifestasi klinis dari demam reumatik/penyakit jantung reumatik adalah karditis. Karditis ini biasanya mengenai endokard, miokard, dan perikard. Endokard yang terkena utama adalah katup-katup jantung dan 50% mengenai katip mitral. Pada keadaan dini DR akut, katup-katup yang terkena akan merah, edema, dan menebal, dengan vegetasi yang disebut sebagai Verruceae. Setelah agak tenang, katup-katup yang terkena akan menjadi tebal, fibrotik, pendek, dan tumpul yang menimbulkan stenosis. Endokarditis biasanya terdeteksi bila terdapat bising jantung.
Thrill adalah sensasi getaran superfisial yang teraba pada kulit di atas daerah turbulensi dan menunjukkan bising (murmur) yang kuat. Apabila telah terjadi stenosis mitral (akibat endokarditis) maka sensasi getaran akibat bising jantung tersebut akan teraba paling keras di apeks kordis.
6.      Mekanisme bising sistol diastol derajat 2-3/6 pm di apeks :
Bising jantung timbul bila ada energi turbulen di dalam dinding jantung dan pembuluh darah. Sumbatan terhadap aliran atau adanya aliran dari diameter kecil ke diameter yang lebih besar akan menimbulkan turbulensi. Turbulensi menyebabkan arus berlawanan (eddies) yang memukul dinding dan menimbulkan getaran yang didengar pemeriksa sebagai bising. Bising derajat 2 adalah bising yang lemah tapi mudah didengar, penjalaran terbatas. Bising derajat 3 adalah bising yang cukup keras, tidak disertai penjalaran bising, penjalaran sedang sampai luas [21]. Bising terdengar paling keras di apeks karena yang mengalami stenosis atau hambatan aliran darah adalah katup mitral yaitu dari atrium kiri ke ventrikel kiri yang secara anatomis berada di hemitoraks sinistra, sama dengan apeks cordis yang dibangun oleh ventrikel kiri.
7.      A. Femoralis teraba bounding artinya bahwa derajat denyut arteri mencapai derajat 4 (bounding = meloncat) [22]. Sistem gradasi ini berdasarkan amplitudo denyut arteri dimana skala 2 adalah normal. Amplitudo yang besar yaitu derajat 4 disebabkan oleh keadaan hiperkinetik sirkulasi sistemik seperti demam dan takikardi.
8.      Aktivitas ventrikel kiri meningkat ditandai dengan adanya stenosis mitral yang menimbulkan bising jantung. Bising terdengar paling keras di apeks karena yang mengalami stenosis atau hambatan aliran darah adalah katup mitral yaitu dari atrium kiri ke ventrikel kiri yang secara anatomis berada di hemitoraks kiri, sama dengan apeks cordis yang dibangun oleh ventrikel sinistra.
9.      Mekanisme takikardia :
Demam berarti terjadi peningkatan suhu tubuh. Kenaikan suhu ini meningkatkan kecepatan metabolisme nodus sinus (SA node) yang juga memberikan konduksi tinggi ke seluruh jantung sehingga meningkatkan eksitabilitas dan kecepatan irama sehingga timbullah takikardia.
10.  Hubungan tanda-tanda pembesaran jantung dengan gejala yang dialami :
Infeksi β-Streptococci Grup A terhadap tubuh akan menimbulkan demam reumatik/penyakit jantung reumatik melalui mekanisme yang telah dijelaskan di atas. Salah satu manifestasi klinisnya adalah karditis. Karditis ini biasanya mengenai endokard, miokard, dan perikard; bisa sendiri-sendiri, kombinasi, atau ketiga-tiganya yang disebut pankarditis. Endokard yang terkena utama adalah katup-katup jantung dan 50% mengenai katup mitral. Miokarditis dapat bersamaan dengan endokarditis sehingga terdapat kardiomegali (pembesaran jantung) dan gagal jantung [23]
11.  Diagnosis banding untuk kasus pada skenario 3 di atas yaitu :
*      Demam Reumatik/Penyakit Jantung Reumatik
*      Endokarditis
*      Stenosis Mitral
*      Miokarditis
INFORMASI TAMBAHAN [24]
Tidak ada satupun gejala klinis maupun kelainan laboratorium yang khas untuk demam reumatik/penyakit jantung reumatik. Banyak penyakit lain yang memberikan gejala yang sama atau hamper sama dengan penyakit ini. Yang perlu diperhatikan ialah infeksi piogen pada sendi yang sering disertai demam serta reaksi fase akut. Bila terdapat kenaikan bermakna titer ASTO akibat infeksi Streptococcus sebelumnya (yang sebenarnya tidak menimbulkan demam reumatik), maka seolah-olah kriteria Jones telah terpenuhi. Evaluasi terhadap riwayat infeksi Streptococcus serta pemeriksaan yang teliti terhadap kelainan sendinya harus dilakukan dengan cermat agar tidak terjadi diagnosis berlebihan.
Reumatoid Artritis serta Lupus Eritematosus Sistemik juga dapat memberikan gejala yang mirip dengan demam reumatik.
Diagnosis banding lannya ialah purpura Henoch-Schoeniein, reaksi serum, hemoglobinopati, anemia sel sabit, artritis pasca infeksi, artritis septik, leukimia, dan endokarditis bakterial subakut.
 Diagnosis Banding Demam Reumatik, Artritis Reumatoid serta
Lupus Eritemstosus Sistemik [25]
 
TUJUAN PEMBELAJARAN SELANJUTNYA
1.      Memahami perbedaan masing-masing penyakit jantung pada anak.
2.      Memahami mekanisme timbulnya penyakit jantung anak.
3.      Memahami faktor-faktor yang berperan dalam proses patologis yang terjadi di jantung yang menimbulkan penyakit jantung pada anak.
4.      Memahami hal-hal yang berhubungan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik pada penderita penyakit jantung anak.
5.      Memahami hubungan antara gejala penyakit jantung anak dan gejala lainnya yang relevan dengan diagnosis penyakit kardiovaskuler tertentu.
6.      Menentukan jenis pemeriksaan dan prosedur diagnostik tertentu yang menunjang diagnosis penyakit jantung anak.
7.      Memahami prosedur tindakan dan terapi pada penderita di UGD akibat penyakit jantung anak.
8.      Memahami kemungkinan komplikasi yang timbul dari penyakit jantung anak.
9.      Memahami prognosis penyakit-penyakit jantung anak.
KLASIFIKASI INFORMASI  [1]
Demam reumatik akut adalah suatu penyakit sistemik akut atau kronik yang dapat sembuh sendiri, oleh sebab yang jelas, dan menimbulkan cacat pada katup jantung secara lambat. Penyakit jantung reumatik adalah penyakit yang terjadi sesudah infeksi Streptococcus beta hemolyticus grup A.
Penderita mengalami demam yang tidak tinggi tanpa pola tertentu, lesu, anoreksia, lekas tersinggung, dan berat badan tampak menurun. Anak terlihat pucat karena anemia, epistaksis, dan artralgia. Terdapat peningkatan C-reactive protein dan leukositosis serta meningkatnya LED, titer ASTO meninggi, dan pada EKG dijumpai pemanjangan interval P-R. Manifestasi spesifik berupa artritis (poliartritis migrans), karditis, eritema marginatum, nodul subkutan, dan chorea.
ANALISA DAN SINTESIS SEMUA INFORMASI
Pasien dalam skenario di atas datang dengan keluhan nyeri dan bengkak pada lutut kiri, demam, jantung terasa berdebar-debar dialami sejak tiga hari yang lalu, sianosis (-), nadi 140 kali/menit, reguler tekanan darah 120/60 mmHg, suhu 38º C, DVS normal, peningkatan aktivitas ventrikel kiri, thrill teraba di apeks, a. Femoralis teraba bounding, batas-batas jantung membesar, bunyi S1 dan S2 murni, intensitas normal, terdengar bunyi sistol diastol derajat 2-3/6 pm di apeks, tidak terdapat jari tabuh, dan terdapat tanda-tanda radang di lutut kiri. memberikan sedikit petunjuk untuk mendiagnosis penyakit tersebut. Ada beberapa diagnosis banding yang sempat dimunculkan seperti demam reumatik/PJR, stenosis mitral, endokarditis, dan miokarditis. Akan tetapi, setelah membandingkan semua gejala dan tanda yang biasa timbul dari semua DD di atas, kami menetapkan Demam Reumatik/Penyakit Jantung Reumatik sebagai diagnosis yang paling tepat untuk pasien pada skenario 3 sebab penyakit tersebut telah menunjukkan semua gejala dan tanda pada skenario di atas berdasarkan tanda khas dari penyakit ini. 
DIFFERENTIAL DIAGNOSE
DEMAM REUMATIK/PENYAKIT JANTUNG REUMATIK
1.      Definisi Penyakit [26]
Demam reumatik akut adalah suatu penyakit sistemik akut atau kronik yang dapat sembuh sendiri, oleh sebab yang jelas, dan menimbulkan cacat pada katup jantung secara lambat.
Penyakit jantung reumatik adalah penyakit yang terjadi sesudah infeksi Streptococcus beta hemolyticus grup A seperti tonsilitis, faringitis, dan otitis media.
2.      Epidemiologi [27]
Meskipun individu-individu segala umur dapat diserang oleh DR akut, tetapi DR ini banyak terdapat pada anak-anak dan orang usia muda (5-15 tahun). Ada dua keadaan terpenting dari segi epidemiologik pada DR akut ini yaitu kemiskinan dan kepadatan penduduk. Tetapi pada saat wabah DR tahun 1980 di Amerika pasien-pasien anak yang terserang juga dari kelompok ekonomi menengah ke atas. Setelah perang dunia kedua dilaporkan bahwa di Amerika dan Eropa insiden DR menurun, tetapi DR masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang.
Ternyata insiden yang tinggi dari karditis adalah pada anak muda dan kelainan katup jantung adalah sebagai akibat kekurangan kemampuan untuk melakukan pencegahan sekunder DR dan PJR. Dilaporkan bahwa DR adalah penyebab utama penyakit jantung untuk usia 5-30 tahun. DR dan PJR adalah penyebab utama kematian penyakit jantung untuk usia di bawah 45 tahun, juga dilaporkan 25-40% penyakit jantung disebabkan oleh PJR untuk semua umur.
Pada penelitian di bawah ini terlihat insiden DR dan PJR di Eropa dan Amerika menurun, sedangkan di negara tropis dan subtropis masih terlihat peningkatan yang agresif, seperti kegawatan karditis dan payah jantung yang meningkat. Majed 1992 melaporkan insiden DR di beberapa negara sebagai berikut :
Insiden DR di Beberapa Negara [28]
 
1.      Etiologi dan Faktor Predisposisi [29]
Demam reumatik, seperti halnya penyakit lain merupakan akibat interaksi individu, penyabab penyakit, dan faktor lingkungan. Penyakit ini berhubungan sangat erat dengan infeksi saluran napas bagian atas oleh Streptococcus beta hemolyticus grup A. Berbeda dengan glomerulonefritis yang berhubungan dengan infeksi Streptococcus di kulit maupun saluran napas, demam reumatik agaknya tidak berhubungan dengan infeksi Streptococcus di kulit.
Faktor-faktor predisposisi yang berpengaruh pada timbulnya demam reumatik dan penyakit jantung reumatik terdapat pada individunya sendiri serta pada keadaan lingkungan.
Faktor-faktor pada individu :
  1. Faktor genetik. Banyak demam reumatik dan penyakit jantung reumatik terjadi pada satu keluarga maupun anak-anak kembar.
  2. Jenis kelamin. Dari data-data penelitian ditemukan tidak ada perbedaan jenis kelamin, meskipun manifestasi klinis tertentu mungkin lebih sering ditemukan pada salah satu jenis kelamin. Misalnya gejala chorea jauh lebih sering ditemukan pada wanita daripada laki-laki. Kelainan katup sebagai gejala sisa penyakit jantung reumatik juga menunjukkan perbedaan jenis kelamin. Pada orang dewasa, gejala sisa berupa stenosis mitral lebih sering didapatkan pada wanita, sedangkan insufisiensi aorta lebih sering ditemukan pada laki-laki.
  3. Golongan etnik dan ras. Data di Amerika Utara menunjukkan bahwa serangan pertama maupun ulang demam reumatik lebih sering didapatkan pada orang kulit hitam dibandingkan dengan orang kulit putih. Di negara-negara barat umumnya stenosis mitral terjadi bertahun-tahun setelah serangan jantung reumatik akut. Tetapi data di India menunjukkan bahwa stenosis mitral organik yang berat seringkali sudah terjadi dalam waktu yang relatif singkat, hanya 6 bulan-3 tahun setelah serangan pertama.
  4. Umur. Penyakit jantung reumatik paling sering mengenai anak berumur antara 5-10 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun. Tidak biasa ditemukan pada anak usia 3-5 tahun dan sangat jarang ditemukan pada sebelum anak berumur 3 tahun atau setelah 20 tahun. Distribusi ini dikatakan sesuai dengan insidens infeksi Streptococcus pada anak usia sekolah.
  5. Keadaan gizi dan lain-lain. Keadaan gizi anak serta adanya penyakit-penyakit lain belum dapat ditentukan sebagai faktor predisposisi untuk DR. Hanya telah diketahui bahwa penderita anemia sel sabit jarang yang menderita DR/PJR.
Faktor-faktor lingkungan :
  1. Keadaan sosial ekonomi yang buruk.
  2. Iklim dan geografi. DR adalah penyakit kosmopolit, terbanyak ditemukan di daerah beriklim sedang, tetapi data-data terakhir menunjukkan bahwa daerah tropis mempunyai insidens yang lebih tinggi. Di daerah dataran tinggi, insidens DR lebih tinggi daripada di dataran rendah.
  3. Cuaca. Perubahan cuaca mendadak seringkali menyebabkan insidens infeksi saluran pernapasan bagian atas meningkat, sehingga insidens DR juga meningkat.
1.      Patogenesis [30]
Meskipun pengetahuan tetntang DR/PJR serta penelitian terhadap kuman Streptococcus beta hemolyticus grup A sudah berkembang pesat, namun mekanisme terjadinya yang pasti belum diketahui. Pada umumnya, para ahli sependapat bahwa DR termasuk dalam penyakit autoimun.
Streptococcus diketahui dapat menghasilkan tidak kurang dari 20 produk ekstrasel, yang terpenting di antaranya ialah streptolisin O, streptolisin S, hialuronidase, streptokinase, difosforin nukleotidase, DNAase, serta streptococcal erythrogenic toxin. Produk-produk tersebut merangsang timbulnya antibodi.
DR diduga merupakan akibat kepekaan tubuh yang berlebihan terhadap beberapa produk ini. Kaplan mengungkapkan hipotesis tentang adanya reaksi silang antibodi terhadap Streptococcus dengan otot jantung yang mempunyai susunan antigen mirip antigen Streptococcus; hal inilah yang menyebabkan reaksi autoimun.
Pada penderita yang sembuh dari infeksi Streptococcus, terdapat kira-kira 20 sistem antigen-antibodi; beberapa di antaranya menetap lebih lama daripada yang lain. Anti DNAase misalnya dapat menetap beberapa bulan dan berguna untuk penelitian terhadap penderita yang menunjukkan gejala chorea sebagai manifestasi tunggal DR, saat kadar antibodinya sudah normal kembali.
Respon Imun Spesifik terhadap Mikroba Ekstraselular dan Toksinnya : Produksi Antibodi, Aktivasi sel CD4+   [31]
1.      Manifestasi Klinis
DR/PJR  yang kita kenal sekarang merupakan kumpulan gejala terpisah-pisah dan menjadi suatu penyakit DR/PJR [32].
Manifestasi Klinis dari Gejala Mayor DR/PJR dari Berbagai Negara [33]
Perjalanan klinis DR/PJR dapat dibagi dalam 4 stadium [34].
Stadium I : berupa infeksi saluran napas bagian atas oleh Streptococcus beta hemolyticus grup A. Keluhan biasanya demam, batuk, rasa sakit waktu menelan, muntah, diare. Pada pemeriksaan fisis ditemukan eksudat di tonsil yang menyertai tanda-tanda inflamasi, kelenjar getah bening submandibular seringkali membesar.
Stadium II :   disebut juga periode laten, ialah masa antara infeksi Streptococcus beta hemolyticus grup A dengan permulaan gejala DR, biasanya periode ini berlangsung 1-3 minggu, kecuali chorea yang dapat timbul 6 minggu atau bahkan berbulan-bulan kemudian.
Stadium III :  fase akut DR, saat timbulnya pelbagai menifestasi klinis DR/PJR.
Gejala peradangan umum : penderita mengalami demam yang tidak tinggi   tanpa pola tertentu, lesu, anoreksia, lekas tersinggung, dan berat badan tampak menurun. Anak terlihat pucat karena anemia, epistaksis, dan artralgia. Terdapat peningkatan C-reactive protein dan leukositosis serta meningkatnya LED, titer ASTO meninggi, dan pada EKG dijumpai pemanjangan interval P-R.
Manifestasi Spesifik : artritis (poliartritis migrans), karditis, eritema marginatum, nodul subkutan, dan chorea.
Stadium IV : stadium inaktif. Pada stadium ini penderita DR tanpa kelainan jantung atau penderita PJR tanpa gejala sisa tidak menunjukkan gejala apa-apa.
[1] Swartz, Buku Ajar Diagnostik Fisik, (Jakarta, 1995), hal. 202.
[2] Ibid, hal. 222.
[3] Ibid.
[4] Staf Pengajar IKA FK UI, Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak, (Jakarta, 2005), hal. 673.
[5] Ibid.
[6] Swartz, Op.cit, hal. 166.
[7] Ibid, hal. 163.
[8] Price, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 6 Volume 1, (Jakarta, 2006), hal. 517-518.
[9] Putz, Atlas Anatomi Manusia Jilid 2 Edisi 21,( Jakarta, 2005), hal. 53.
[10] Alkatiri, Bahan Kuliah Valvular Disease, (Makassar, 2007), hal. 14.
[11] Ibid, hal. 530.
[12] Ibid, hal. 536.
[13] Hastuti, Bahan Ajar Histologi Kardiovaskuler, (Makassar, 2007), hal. 5-13.
[14] Ibid, hal. 8.
[15] USM, A Compilation of Pathogenesis and Pathophysiology, (Malaysia, 2003), hal. 61.
[16] Ibid, hal. 74.
[17] Ibid, hal. 92.
[18] Tim Penyusun IPD, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3 Edisi IV, (Jakarta, 2006), hal. 1577.
[19] Staf Pengajar IKA FK UI, Op.cit, hal. 737.
[20] Ibid, hal. 736.
[21] Ibid. hal. 673.
[22] Swartz, Op. cit, hal. 222.
[23] Tim Penyusun IPD, Op.cit, hal. 1577.
[24] Staf Pengajar IKA FK UI, Op.cit., hal. 745-746.
[25] Ibid, hal. 746.
[26] Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi Ketiga, (Jakarta, 2002), hal. 451.
[27] Tim Penyusun IPD, Op.cit., hal. 1576.
[28] Ibid.
[29] Price, Op.cit, hal. 580.
[30] Ibid, hal. 737-738.
[31] Ibid, hal. 309.
[32] Tim Penyusun IPD, Op.cit, hal. 1577.
[33] Ibid.
[34] Staf Pengajar IKA FK UI, Op.cit, hal. 740-744.
[35] Tim Penyusun IPD, Op.cit, hal. 1576.
[36] Mansjoer, Op.cit, hal. 452.
[37] Staf Pengajar IKA FK UI, Op.cit, hal. 744.
[38] Ibid, hal. 746-749.
[39] Ibid.
[40] Ibid.
[41] Ibid.
[42] Mansjoer, Op.cit, hal. 451.
[43] Tim Penyusun IPD, Op.cit, hal. 1578.
[44] Mansjoer, Op.cit,
[45] Tim Penyusun IPD, Op.cit.
[46] Ibid, hal. 1575.
 
DAFTAR PUSTAKA
Alkatiri, Hakim, 2007, Bahan Kuliah Valvular Disease, Bagian Ilmu Penyakit Dalam  Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.
Baratawidjaja, Karnen Garna, 2006, Imunologi Dasar Edisi Ke-7, Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Hastuti, Triani, 2007, Bahan Ajar Histology Kardiovaskuler, Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.
Mansjoer, Arief, dkk., 2005, Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 1, Media Aesculapius, Penerbit FK UI, Jakarta.
Putz R., R. Pabst, 2005, Atlas Anatomi Manusia Sobotta Jilid 2 Edisi 21, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, 2005, Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Swartz, Mark H., 1995, Buku Ajar Diagnostik Fisik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Tim Penyusun IPD, 2006, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV, Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Universiti Sains Malaysia, 2003, A Compilation of Pathogenesis and Pathophysiology, USM Press, Malaysia.
Wiechmann, Allan dan Pillow, Jonathan, 2005, University of Oklahoma Health Sciences Center Interactive Histology Atlas, Oklahoma. 
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Tentang Ku

Tujuh hal yang akan menghancurkan kita; kekayaan tanpa kerja, pengetahuan tanpa kerja, bisnis tanpa moralitas, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, ibadah tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip.

Entri Populer

Recent Post

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Catatan Sugasetya - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger